Dark Specialist D's Note Skip to main content

Posts

Showing posts with the label jalan

Fungsi Lapisan Perkerasan

  (lanjutan dari Perkerasan Jalan) Agar perkerasan mempunyai daya dukung dan keawetan yang memadai, tetapi tetap ekonomis, maka perkerasan jalan raya dibuat berlapis-lapis. Lapis paling atas disebut sebagai lapis permukaan, merupakan lapisan yang paling baik mutunya. Di bawahnya terdapat lapis pondasi, yang diletakkan di atas tanah dasar yang telah dipadatkan. 1. Lapis Permukaan (LP) Lapis permukaan adalah bagian perkerasan yang paling atas. Fungsi lapis permukaan dapat meliputi: a. Struktural  Ikut mendukung dan menyebarkan beban kendaraan yang diterima oleh perkerasan, baik beban vertikal maupun beban horizontal (gaya geser). Untuk hal ini persyaratan yang dituntut adalah kuat, kokoh, dan stabil. b. Non Struktural , dalam hal ini mencakup Lapis kedap air, mencegah masuknya air ke dalam lapisan perkerasan yang ada di bawahnya. Menyediakan permukaan yang tetap rata, agar kendaraan dapat berjalan dan memperoleh kenyamanan yang cukup. Membentuk permukaan yang tidak licin, sehingga tersed

Perkerasan Jalan Lentur / Flexible Pavement dan Susunannya

Konstruksi perkerasan jalan lentur secara umum terdiri dari 4 bagian yaitu: Tanah dasar (sub grade) Perkerasan bawah (sub base course) Perkerasan atas (base course) Lapis permukaan (surface course) a. Tanah Dasar (Sub Grade) Tanah dasar adalah permukaan tanah asli, permukaan galian, atau permukaan timbunan yang merupakan dasar untuk peletakan bagian bagian perkerasan yang lainnya. Kekuatan dan keawetan dari konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari sifat dan daya dukung tanah dasar. Sehingga tanah dasar ini menentukan tebal tipisnya lapisan tanah di atasnya. Untuk menentukan kekuatan tanah dasar biasanya dipakai cara CBR (CALIFORNIA BEARING RATIO). Sistem klasifikasi yang umum dipakai pada jalan raya adalah UNIFIED dan AASHO system, sedang untuk lapangan terbang digunakan FAA system. Kekuatan dan keawetan konstruksi perkerasan jalan sangat tergantung dari sifat- sifat dan daya dukung tanah dasar. Umumnya persoalan yang menyangkut tanah dasar adalah sebagai berikut: Perubahan b

Base Course dan Sub Base Pada Perkerasan Jalan

Basecourse  adalah material urug yang paling baik untuk pekerjaan pengurugan baik itu jalan maupun bangunan. Karena dihasilkan dari batuan alam/batu gunung yang dihancurkan oleh mesin pemecah Batu / stone crusher, umum nya Basecourse/Beskos Terdiri dari Agregat/Batu Split (Batu Agregate Type 1/2, 2/3, 3/5), Batu Screening( Batuan ukuran 5-10 m ), dan Abu Batu. Gambar diatas adalah lapisan dalam konstruksi perkerasan tanpa mortar: A. Subgrade B. Subbase C. Base course D. Paver base as binder course E. Pavers as wearing course F. Fine-grained sand Perbedaan Base Course dan Subbase Course Dalam struktur perkerasan jalan dikenal beberapa lapisan, dua di antaranya adalah base course dan subbase course. Ini penjelasan lengkapnya terjadi dalam bentuk tabel di bawah: a. Definisi - Base course adalah lapisan perkerasan jalan yang disebut juga lapis pondasi atas, letaknya di antara lapis pondasi bawah dan lapis permukaan jalan. - Subbase Course adalah lapisan perkerasan perkerasan jalan yang t

Joint Sealant untuk Runways / Airport / Bandara

Area bongkar muat, landasan pacu, apron, dan area pencucian pesawat di bandara mendapatkan lalu lintas tinggi, beban berat, dan penggunaan yang hampir tidak terputus. Oleh karena itu, sangat penting bahwa lantai bandara yang terbuat dari beton dan/atau bidang aspal diperlakukan sesuai dengan sealant sambungan bandara yang membuat sambungan antar bidang tidak dapat ditembus. Sambungan yang disegel dengan buruk cenderung menyebabkan masalah dari waktu ke waktu termasuk: Sagging / longgarnya pada bidang, juga dikenal sebagai korosi yang dapat disebabkan oleh iklim, bahan kimia, atau abrasi Kontaminasi tanah karena bahan kimia yang dapat mengakses tanah melalui sambungan yang tertutup rapat Bahaya keselamatan di landasan pacu saat mendarat dan lepas landas Untungnya, ada beberapa sistem sealant sambungan bandara yang cocok untuk beton atau aspal dari landasan pacu hingga area pencucian. Sealant bandara yang paling umum termasuk sistem polimer dan polisulfida MS. Persyaratan Joint Sealant p

Perbandingan Runways Aspal dan Beton

Berikut perbandingan kelebihan dan kekurangan antara Runways Aspal dan Beton A. Runway Aspal Murah Konstruksi sederhana  Tidak memerlukan banyak perencanaan Hanya perlu membuat jalan raya yang tebal Umur pendek (5-10 tahun) karena ledakan jet panas + iklim ekstrim Landasan pacu perlu sering diubah Perawatan mudah karena dapat diperbaiki dalam semalam saat lalu lintas tidak terlalu padat Nyaman, halus, tenang Konstruksi cepat B. Runway Beton Mahal Butuh perencanaan yang matang Mahalnya biaya satuan slab (blok bangunan) beton Berumur panjang (40 tahun) dan sangat tahan lama Dapat digunakan per bagian (selama bagian dari runway sedang dalam proses rekonstruksi, bagian lain masih dapat digunakan karena runway dibagi menjadi beberapa bagian) Kokoh tapi keras Merusak roda pendarat (khususnya ban karet) Konstruksi lambat Demikian perbandingan penggunaan aspal dan beton sebagai runways.

Sambungan Perkerasan Lapangan Terbang (Airfield Joints) part 4 (Baja Tanam/Embedded Steel)

  Sealant sambungan digunakan pada sambungan perkerasan lapangan udara untuk mencegah material yang tidak dapat dimampatkan dan untuk meminimalkan infiltrasi air. Untuk bekerja dengan baik, bahan sealant harus mampu menahan perpanjangan dan kompresi berulang saat pelat perkerasan mengembang dan menyusut dengan perubahan suhu dan kelembaban. Ukuran dan bentuk penampang sealant mempengaruhi kinerja material sealant. Gambar dibawah menunjukkan konfigurasi sealant umum untuk perkerasan lapangan terbang. Di lokasi pengisian bahan bakar dan area perkerasan lapangan terbang yang terkena tumpahan bahan bakar, sealant tahan bahan bakar jet diperlukan. Embedded Steel / Baja Tanam   Dalam banyak keadaan, perkerasan beton lapangan terbang dirancang sebagai perkerasan plain yang mengandung baja hanya pada area penetrasi perkerasan dan pada panel oddshaped. Baja tanam tidak dimaksudkan untuk menambah kapasitas struktural perkerasan. Ketebalan yang dibutuhkan untuk lokasi perkerasan termasuk baja t

Sambungan Perkerasan Lapangan Terbang (Airfield Joints) part 3 (Pengaturan Layout Sambungan)

  Gambar dibawah menunjukkan pengaturan jointing tipikal untuk perkerasan lapangan terbang. Insinyur bertanggung jawab untuk meletakkan sambungan sebagai bagian dari desain perkerasan dan harus terbiasa dengan peralatan konstruksi dan teknik yang digunakan dalam konstruksi perkerasan bandara. Sambungan konstruksi umumnya harus ditempatkan sejajar dengan panjang terpanjang dari perkerasan. Orientasi ini umumnya memastikan konstruksi yang paling efisien melalui metode fixedform atau slipform. Tata letak untuk taxiway dan runway tidak sulit dalam hal ini. Namun, perkerasan apron merupakan tantangan unik untuk memaksimalkan konstruksi ke arah lalu lintas dan meminimalkan penempatan tangan. Insinyur harus mempertimbangkan efisiensi konstruksi ketika memilih orientasi sambungan untuk perkerasan apron. Tata letak sambungan di persimpangan perkerasan lapangan terbang juga menghadirkan tantangan penyambungan khusus. Persimpangan menciptakan area perkerasan yang besar dan tidak beraturan dan mem

Sambungan Perkerasan Lapangan Terbang (Airfield Joints) part 2 (Dowel dan Tiebars)

A. Batang Dowel Batang dowel (atau pasak) digunakan untuk mentransfer beban roda yang melintasi sambungan ke panel yang berdekatan, mengurangi defleksi (dan tegangan) pada sambungan dan mencegah perpindahan diferensial dari panel berbatasan. Batang dowel adalah batang halus yang harus ditempatkan di dekat sumbu netral (kedalaman tengah) pelat dan dalam keselarasan yang hati-hati untuk memungkinkan pelat yang berdekatan bergerak saat mengembang atau menyusut akibat perubahan termal. Kebutuhan untuk menggunakan dowel tergantung pada jenis sambungan dan lokasinya di fasilitas perkerasan lapangan terbang. Sambungan berikut membutuhkan dowel: Semua sambungan konstruksi tipe butt joint Sambungan kontraksi melintang di dekat tepi bebas fasilitas, seperti runway atau taxiway. Dowel tidak diperlukan pada sambungan kontraksi transversal kecuali sambungan tersebut dekat dengan tepi bebas atau sambungan isolasi. Alasan dowel diperlukan dalam sambungan kontraksi melintang di dekat tepi bebas fasili